Senin, 22 April 2013

PERENCANAAN KAMPANYE KOMUNIKASI (bagian 2)



Analisis Masalah Perencanaan Kampanye Komunikasi 

It is impossible to change attitudes or behavior through communication campaign without knowing what the starting point is” demikian ungkap Gregory (2000). Titik tolak untuk membuat suatu perubahan lewat kampanye adalah dengan membuat perencanaan. Langkah awal suatu perencanaan adalah melakukan analisis masalah. Agar dapat diidentifikasi dengan jelas, maka analisis masalah hendaknya dilakukan secara terstruktur. Pengumpulan informasi yang berhubungan dengan permasalahan harus dilakukan secara objektif dan tertulis serta memungkinkan untuk dilihat kembali setiap waktu. Hal ini dapat menghindarkan terjadinya pemecahan masalah yang tidak tepat.
Ada dua jenis analisis yang digunakan untuk perencanaan program kampanye yaitu analisis PEST (Political, Economic, Social and Technology) yang secara khusus mempertimbangkan empat aspek penting yang terkait langsung dengan proses pelaksanaan kampanye dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threats) yang lebih memfokuskan diri pada kalkulasi penting pencapaian tujuan kampanye.
Analisis PEST membagi pembahasannya pada empat area yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi atau melatarbelakangi kampanye, yaitu Politik (Political), Ekonomi (Economic), Sosial (Social) dan Teknologi (Technological). Area politik mencakup berbagai peraturan pemerintah yang berhubungan dengan program dan pesan kampanye, serta keadaan kondisi politik atau pemerintahan. Area ekonomi meliputi kondisi nilai tukar mata uang, inflasi, keadaan ekonomi dunia serta harga berbagai sumber daya. Area sosial meliputi gaya hidup, tingkat pendidikan, pola hidup, perilaku sosial dan perkembangan populasi. Area teknologi meliputi berbagai perubahan teknologi yang berkaitan dengan program kampanye.
Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (kesempatan), dan Threats (tantangan). Strength dan opportunities dapat dikelompokkan sebagai pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, sedangkan weakness dan threats dikelompokkan pada kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye.
Untuk melakukan analisis tersebut diperlukan penelitian yang cermat dan terstruktur dengan baik. Penelitian dapat dilakukan oleh pihak internal maupun pihak eksternal, atau akan lebih baik lagi jika menggunakan keduanya. Jenis penelitian yang digunakan bisa bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian kuantitatif digunakan untuk data-data yang bisa dituangkan ke dalam bentuk angka-angka dan statistik, sementara penelitian kualitatif digunakan untuk data-data yang tidak bisa dituangkan ke dalam bentuk angka-angka seperti opini, reaksi dan sikap.  Data-data yang diperlukan dapat diperoleh dengan menggunakan berbagai teknik, diantaranya: angket, wawancara langsung, wawancara melalui telepon, focus group discussing atau diskusi kelompok. Perencana kampanye juga dapat memperoleh beberapa informasi dari media, karena hampir semua media mempunyai data-data mengenai khalayaknya.
Penyusunan Tujuan
Salah satu hal yang biasa dilihat dalam dunia kampanye adalah adanya janji-janji palsu kepada khalayak. Penyebab bertebarannya janji-janji palsu atau janji yang terlalu berlebihan ini bermacam-macam, salah satunya adalah ketidaktahuan atau ketidakpastian mengenai kemana sebenarnya tujuan kampanye tersebut. Maka, hal yang wajib dilakukan setelah analisis masalah adalah menyusun tujuan, yang akan menjawab pertanyaan “apa yang ingin dicapai?”.
Tujuan harus disusun dan dituangkan dalam bentuk tertulis dan bersifat realistis. Penyusunan tujuan yang realistis ini merupakan hal yang wajib dilakukan dalam sebuah proses perencanaan kampanye agar kampanye yang dilaksanakan mempunyai arah yang terfokus pada pencapaian tujuan tersebut.
Ada beragam tujuan yang bisa dicapai dengan menggunakan program kampanye. Tujuan tersebut diantaranya adalah menyampaikan sebuah pemahaman baru, memperbaiki kesalahpahaman, menciptakan kesadaran, mengembangkan pengetahuan tertentu, menghilangkan prasangka, menganjurkan sebuah kepercayaan, mengkonfirmasi persepsi, serta mengajak khalayak untuk melakukan tindakan tertentu.
Untuk mempermudah penyusunan sebuah tujuan kampanye, perhatikan beberapa aturan berikut (Gregory:2000):
1.      Susunlah tujuan kampanye. Tujuan yang dibuat adalah tujuar kampanye yang akan dilakukan, bukan tujuan organisasi: secara keseluruhan, atau dampak lanjutan dari kampanye tersebut. Misalnya, jangan membuat tujuan kampanye " untuk meningkatkan penjualan produk x tahun ini sebanyak 20 persen", karena penjualan bergantung kepada kinerja bagian produksi dan bagian penjualan. Tetapi buatlah tujuan “untuk meningkatkan pengetahuan khalayak dan para agen tentang produk x, sehingga 6 bulan mendatang 50% khalayak di kota Bandung sudah mencoba menggunakan produk tersebut­”. Penjualan yang diharapkan meningkat 20% tersebut adalah dampak dari tercapainya tujuan kampanye ini, tapi bukan tanggung jawab kampanye. Perlu diperhatikan juga bahwa tujuan sebuah program kampanye harus selalu selaras dengan tujuan organisasi atau tujuan bagian-bagian lain dalam organisasi tersebut. Karenanya, jika perlu rencana organisasi: hendaknya dituangkan juga ke dalam format penulisan rencana.
2.      Susun tujuan secara seksama dan spesifik. Tujuan jangan dibuat menggantung dan sangat terbuka, tetapi di dalamnya harus terjawab secara jelas clan spesifik tentang apa yang dikehendaki, kepada siapa, kapan dan bagaimana.
3.      Susun tujuan yang memungkinkan untuk dicapai. Jangan menyusun tujuan terlalu muluk, hanya mengawang-awang dan akhirnya tak bisa tercapai. Pastikan bahwa tujuan yang disusun memungkinkan untuk dievaluasi tingkat pencapaiannya.
4.      Kuantifikasi semaksimal mungkin. Semakin dapat dikuantifikasi sebuah tujuan, maka semakin mudah evaluasi tingkat ­pencapaiannya. Tidak semua tujuan dapat dikuantifikasi secara tepat, tapi sebagian besar dapat dikuantifikasi.
5.      Pertimbangkan anggaran. Penyusunan tujuan harus memperhatikan anggaran yang tersedia untuk program kampanye tersebut.
6.      Susun tujuan berdasarkan skala prioritas. Buatlah tujuan kampanye berdasarkan prioritas, agar tim kampanye dapat memfokuskan pekerjaan kepada satu tujuan yang terarah.
Tujuan kampanye dapat kita buat setinggi mungkin, namun demikian ada beberapa batasan internal dan eksternal yang harus  diperhitungkan agar tujuan yang dibuat kemungkinan besar tercapai. Batasan internal meliputi pertanyaan siapa yang akan melaksanakna kampanye? Berapa biaya yang tersedia? Kapan tujuan tersebut ingin dicapai? Siapa pembuat keputusan? Adakah sumberdaya yang mempermudah pencapaian tujuan tersebut? Sementara itu batasan eksternalnya adalah: siapa yang ingin diraih? Bagaimana perbedaan budaya yang mungkin ada? Adakah infrastruktur yang mendukung? Serta analisis waktu secara keseluruhan.
Identifikasi dan Segmentasi Sasaran
Identifikasi dan segmentasi sasaran dilakukan untuk menjawab pertanyaan “who shall I talk to?” Hal ini perlu dilakukan karena kampanye tidak bisa ditujukan kepada semua orang secara serabutan. Tidak benar jika dikatakan “bicara pada semua orang” akan meningkatkan hasil kampanye. Dengan melakukan identifikasi dan segmentasi sasaran maka proses perencanaan selanjutnya akan lebih mudah, hingga akhirnya akan melancarkan pelaksanaan kampanye. Sebagai contoh, dengan menetapkan sasaran kampanye adalah orang-orang desa, maka proses perencanaan pesan juga akan menjadi mudah karena secara terfokus kita akan membuat pesan yang sesuai dengan karakteristik orang desa.
Untitled-1.jpg
Identifikasi dan segmentasi sasaran dapat dilihat sebagai sasaran tembak
Untuk mempermudah proses identifikasi dan segmentasi sasaran perlu dilakukan pelapisan sasaran, yaitu sasaran utama, sasaran lapis satu, sasaran lapis dua dan seterusnya sesuai tujuan kampanye. Sasaran utama adalah sasaran yang akan "dibidik' sasaran paling potensial, yang dalam istilah lain disebut sebagai ultimate targets. Selanjutnya, ibarat sasaran tembak, tingkat potensial itu berkurang pada sasaran lapis satu dan semakin berkurang pada lapisan berikutnya. Sasaran pada lapis berikutnya ini dapat juga di­sebut sebagai intermediate targets.
Identikasi dan segmentasi sasaran dilakukan dengan melihat karakteristik publik secara keseluruhan, kemudian dipilih yang mana yang akan menjadi sasaran program kampanye. James Grunig (Gregory: 2000) membagi publik kedalam tiga jenis:
1.      Latent public, yaitu kelompok yang menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan isu kampanye, namun tidak menyadarinya
2.      Aware public, yaitu kelompok yang menyadari bahwa perma­salahan tersebut ada
3.      Active public, yaitu kelompok yang mau bertindak sehubungan dengan permasalahan tersebut.
Pemilihan publik mana yang akan menjadi sasaran bergantung pada tujuan kampanye yang akan dilaksanakan. Arens (1999) mengatakan bahwa identifikasi dan segmentasi sasaran kampanye dilaksanakan dengan melakukan pemilahan atau segmentasi ter­hadap kondisi geografis (geographic segmentation), kondisi demografis (demographic segmentation), kondisi perilaku (behaviouristic segmentation), dan kondisi psikografis (psycographic segmentation) Geographic segmentation berkaitan dengan ukuran atau luas daerah, lokasi spesifik, jenis media serta budaya komunikasi di daerah tempat tinggal sasaran. Demographic segmentation dilakukan dengan melihat karakteristik jenis kelamin, usia, suku, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan sasaran. Behavouristic segmentation dilakukan dengan melihat status, gaya hidup, dan jenis perilaku lainnya. Phsycographic segmentation dilakukan dengan melihat emosi serta nilai budaya yang dianut oleh publik.
Menentukan Pesan
Perencanaan pesan adalah hal penting yang harus dilakukan dalam perencanaan kampanye. Pesan kampanye merupakan sarana yang akan membawa sasaran mengikuti apa yang diinginkan dari program kampanye, yang pada akhirnya akan sampai pada pencapaian tujuan kampanye. Agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan maka pesan harus disusun berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
Untitled-2.jpg
Hubungan antara tujuan, isi pesan dan hasil kampanye
Diadaptasi dari Simmons, 1990, “Communication Campaign Management” hal 126
Pada tahap perencanaan pesan, yang pertama dilakukan adalah pembuatan tema kampanye. Tema merupakan ide utama yang ber­sifat umum, sebagai induk dari berbagai pesan yang akan disampaikan kepada sasaran. Contoh tema adalah "menyelamatkan terumbu karang", "memerangi narkoba dan minuman keras", "memasyarakatkan pola keluarga kecil bahagia sejahtera", "mengunakan listrik secara hemat", "membangun kebiasaan tertib berlalu lintas melalui penggunaan helm pengaman", "memerangi perjudian", atau "menghemat air"
Setelah tema ditentukan, barulah dilakukan pengelolaan pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Pesan merupakan pernyataan spesifik dengan ruang lingkup tertentu, dan didalamnya terkandung tema atau ide utama. Sebuah tema kampanye dapat di­turunkan menjadi berbagai variasi pesan yang disesuaikan dengan kondisi sasaran. Contoh pesan untuk tema "memerangi perjudian" misalnya: "Judi itu penuh dengan kecurangan karenanya tidak ada orang yang bisa kaya dari berjudi selain bandar judi itu sendiri", dan "Judi membuat orang malas bekerja dan hanya berharap pada sesuatu yang tidak pasti."
Ada empat tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan pesan dan menurunkannya dari tema kampanye, yaitu:
1.      Mengambil persepsi yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan isu atau produk yang akan dikampanyekan.
2.      Mencari celah dimana kita bisa masuk dan mengubah persepsi.
3.      Melakukan identifikasi elemen-elemen persuasi. Kita bisa menggunakan jalur utama maupun jalur alternatif
4.      Meyakinkan bahwa pesan sudah layak untuk disampaikan dalam program kampanye, uji coba dapat dilakukan dengna menggunakan pemilihan sampel dari populasi yang kita tuju.
Strategi dan Taktik
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang akan diterapkan dalam kampanye, atau untuk lebih mudahnya dapat disebut sebagai guiding principle, atau the big idea. Guiding principle atau the big idea ini dapat diartikan sebagai pendekatan yang diambil untuk menuju pada suatu kondisi tertentu dari posisi saat ini, yang dibuat berdasarkan analisis masalah dan tujuan yang telah ditetapkan. Strategi ini kemudian dituangkan secara lebih kongkret dalam bentuk taktik. Untuk lebih mudah memahaminya, perhatikan contoh berikut:

Kasus 1
Kasus 2
Tujuan
Membawa partai untuk memenangkan pemilu dua periode mendatang
Mengajak target pasar untuk beralih menggunakan produk baru yang akan dikampanyekan
Strategi
Merekrut kader yang loyal dan tetap bertahan hingga pemilu dua periode mendatang
Mengajak khalayak untuk mencoba produk yang kampanye dengan menggunakan iklan lini bawah
Taktik
1.      Iklan lini bawah berupa stiker, kalender, kaos dll
2.      Persuasi personal dan direct selling
3.      Pendidikan politik
4.      Pembuatan kartu anggota partai
5.      Melibatkan simpatisan dan kader dalam berbagai kegiatan partai
6.      Selalu menyiarkan laporan transparan kepada publik mengenai kebijakan dan keuangan
1.      Pamflet dan poster
2.      Membuka stand uji coba di mall dan supermarket
3.      Menyebarkan sampel atau tester
4.      Mengadakan event-event promosi di berbagai kota

Taktik sangat bergantung pada tujuan dan sasaran yang akan dibidik program kampanye. Semakin kompleks tujuan dan sasaran bidik maka taktik yang digunakan harus semakin kreatif dan variatif. Namun demikian, pemilihan taktik bukanlah hal yang sangat rumit, karena pemilihan taktik sebenarnya hanya didasarkan pada dua fungsi yaitu fungsi menghubungkan dan fungsi meya­kinkan. Pertama, taktik mengidentifikasi dan menghubungkan pro­gram kampanye dengan sasaran melalui media komunikasi tertentu. Selanjutnya, taktik meyakinkan sasaran melalui kekuatan pesan ko­munikasi hingga membuat sasaran berpikir, percaya dan bertindak sesuai dengan tujuan program kampanye.
Supaya taktik yang dipilih dapat menjalankan fungsi menghu­bungkan dan meyakinkan, maka harus dilihat tingkat ketepatan dan daya penyampaiannya. Ketepatan taktik maksudnya adalah: sejauh mana taktik dapat mencapai sasaran yang dituju? akankah dampaknya sesuai? apakah taktik ini cukup kredibel untuk mem­bawa pesan kampanye? akankah pesan tersampaikan? apakah taktik ini sejalan dengan taktik-taktik lain yang juga digunakan? Sementara daya penyampaian melihat kepada: dapatkah taktik ini dilaksanakan dengan sukses? bisakah taktik ini dilaksanakan dengan anggaran dan batas waktu yang tersedia? adakah orang yang mempunyai keahlian untuk mengimplementasikan taktik tersebut?
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penetapan strategi dan taktik agar kampanye dapat berjalan efektif.
1.      Gunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas untuk taktik. Taktik yang dituntun oleh strategi akan membuat kegiatan menjadi lebih sistematis dan ringan, serta tidak melenceng dari tujuan kampanye. Strategi dibuat berdasarkan kepada tujuan kampanye.
2.      Jauhi semua taktik yang ber sifat nonstrategis. Taktik yang banyak namun tidak terfokus kepada strategi akan memecah­kan konsentrasi tim kampanye. Karenanya usahakan tintuk berfokus secara maksimal pada taktik yang sejalan dengan strategi.
3.      Selalu hubungkan taktik pada strategi, dan strategi pada tujuan. Ketiga hal ini merupakan rangkaian yang harus dijalin dengan erat. Tujuan memberikan arah secara keseluruhan tentang hasil akhir yang ingin dicapai melalui kampanye. Strategi merupakan kekuatan yang mendorong bagaimana menuju hasil akhir tersebut, sementara itu taktik memetakan kegiatan dengan langkah-langkah tertentu dalam rentang waktu yang tersedia.
4.      Ujilah taktik bila memungkinkan. Pengujian taktik ini meru­pakan hal yang sangat disarankan untuk mengetahui kemung­kinan tingkat keberhasilannya. Jika hasil pengujian me­nunjukkan bahwa taktik yang digunakan ternyata kurang efektif maka tidak ada salahnya mengubah taktik tersebut dengan taktik lain yang lebih efektif. Lebih jauh, pengujian dan pengubahan taktik merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum tim kampanye memutuskan untuk mengubah strategi kampanye. Salah satu cara sederhana untuk menguji taktik adalah dengan menyebarkan angket kepada beberapa sasaran untuk dimintai pendapatnya sehubungan dengan taktik yang akan digunakan.
Untuk memudahkan pengukuran atau pengujian taktik, peren­cana kampanye perlu membuat performance indicators yaitu pernyataan yang jelas dan tidak ambigu mengenai hasil yang diharapkan dari penggunaan sebuah taktik. Di dalamnya tercantum kriteria yang tepat dan teliti untuk mengukur hasil aktual, siapa yang diharapkan melakukannya, dan pada kondisi apa hasil itu terjadi (Kaufman dalam Ferguson, 1999). Contoh performance indica­tor ini adalah "25% sasaran yang diberikan sampel produk pada kegiatan pembagian sampel di mall-mall langsung membeli produk saat itu juga".
Alokasi Waktu Dan Sumber Daya
Kampanye selalu dilaksanakan dalam rentang waktu tertentu. Ada­kalanya rentang waktu tersebut.berasal dari pihak luar, misalnya rentang waktu kampanye untuk pemilu ditetapkan oleh pemerintah. Ada pula rentang waktu yang ditetapkan sendiri, misalnya rentang waktu kampanye pengenalan produk oleh lembaga maupun peren­cana kampanye.
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk perencanaan waktu adalah dengan menggunakan Critical Path Analysis (CPA) atau analisis jalur kritis. CPA menganalisis semua komponen pelaksanaan yang terdapat dalam sebuah program secara mendetail. Selanjutnya komponen-komponen tersebut diletakkan dalam titik waktu yang berada dalam satu garis lurus, mulai dari hari dibuatnya analisis tersebut hingga hari pelaksanaan.
CPA sangat baik digunakan untuk perencanaan waktu program kampanye satu per satu atau per kegiatan. Sedangkan untuk program kampanye secara keseluruhan dapat digunakan perencanaan waktu tahunan, atau perencanaan waktu per semester yang dituangkan ke dalam tabel perencanaan waktu.
Untitled-3.jpg
Contoh analisis jalur kritis untuk kampanye melalui media cetak
Kampanye merupakan program yang melibatkan banyak kegiatan, karenanya akan lebih baik jika CPA ini digabungkan dengan PERT atau Program Evaluation and Review Technique. Selain membantu perencanaan, PERT juga sangat berperan untuk mengefektifkan pendelegasian, pengawasan serta evaluasi kegiatan kampanye. Untuk membuat perencanaan dengan PERT, perencana kampanye terlebih dahulu harus melakukan penentuan tujuan dan aktivitas serta mengidentifikasi sumber daya. Selanjutnya, kedua hal tersebut dimasukkan ke dalam penjadwalan waktu.
Sebelum membuat dan menuangkan PERT ke dalam bagan yang terstruktur, ada beberapa komponen dalam PERT yang harus dipahami lebih dahulu (Simmons, 1999), yaitu:
1.      Tujuan, adalah hasil akhir yang diinginkan dari sebuah kegiatan. Pada bagan, komponen ini dipresentasikan dengan angka dalam sebuah lingkaran, misalnya:
1.jpg
2.      Aktivitas, adalah tugas yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Aktivitas disimbolkan dengan garis yang menghubungkan setiap lingkaran tujuan.
2.jpg
3.      Predecessor, adalah tujuan yang harus dicapai terlebih dahulu agar kegiatan selanjutnya dapat berjalan.
3.jpg
4.      Successor, adalah aktivitas yang tidak akan dapat dilakukan sebelum tujuan sebelumnya tercapai
5.      Concurrent objectives, adalah tujuan yang bisa tercapai bersamaan pada satu waktu
6.      Waktu, adalah perkiraan standar waktu yang diperlukan untuk setiap unit kegiatan. Waktu dituliskan dalam bentuk angka dalam sebuah tanda kurung pada garis aktivitas.
4.jpg
7.      Begin, adalah permulaan dimulainya semua aktivitas. Komponen ini ditulis dengan menggunakan huruf kapital yang ditutup dengan sebuah persegi panjang, seperti berikut:
6.jpg
8.      End, adalah penutup semua kegiatan kampanye. Peraturan penulisannya sama dengan penulisan begin.
Berikut adalah contoh sederhana dari sebuah jaringan PERT. Tujuan-tujuan yang menjadi komponen jaringan PERT ini adalah:
1.      Strategi tertulis dari kampanye di media cetak
2.      Naskah awal iklan cetak
3.      Pengumpulan foto-foto yang diperlukan
4.      Desain kasar yang sudah lengkap dengan foto dan naskah
5.      Kepastian media yang akan digunakan
6.      Desain sudah dikoreksi
7.      Desain sudah direvisi
8.      Film untuk cetak selesai dibuat
9.      Desain diterima media
Untitled-4.jpg
Contoh jaringan PERT
Keterangan:
·         8 dan 9 adalah successor 7, karena bila tujuan 7 belum tercapai kedua aktivitas untuk menuju tujuan 8 dan 9 tidak akan dapat dilakukan. Sebaliknya, 7 adalah predecessor bagi 8 dan 9
·         3 dan 5 merupakan concurrent objectives karena keduanya bisa tercapai pada waktu yang bersamaan
Berkaitan dengan perencanaan waktu ini, ada hal lain yang harus diidentifikasi dengan jelas dan pasti yaitu sumber daya kampanye yang akan menyokong agar kampanye terlaksana dan selesai tepat pada waktunya. Secara umum, sumber daya pendukung kampanye terbagi menjadi tiga, yaitu sumber daya manusia, dana operasional, dan peralatan.
Sumber daya manusia yang digunakan jasanya untuk mendukung program kampanye harus dihitung kemampuan dan usahanya. Besarnya kemampuan dan usaha yang dikeluarkan SDM akan mempengaruhi kelancaran pelaksanaan kampanye. Selain itu kemampuan dan usaha tersebut juga mempengaruhi jumlah imbalan jasa yang harus dikeluarkan.
Sementara itu, pengalokasian dana operasional hendaknya didasarkan pada efektivitas dan efisiensi. Efektivitas dan efisiensi di sini bukan berarti mengeluarkan uang sekecil-kecilnya setiap waktu. Tetapi mendapatkan sesuatu yang lebih dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Contoh efektivitas dan efisiensi ini terdapat pada alokasi dana untuk pemilihan media, misalnya, kampanye dengan menggunakan media televisi jelas jauh lebih mahal dibandingkan dengan majalah. Namun hasil analisis yang dilakukan tim kampanye menunjukkan bahwa televisi dapat lebih banyak menjangkau sasaran yang dituju dan sangat tepat untuk pesan yang akan disampaikan dibandingkan dengan majalah. Dalam kasus ini terlihat bahwa majalah, meskipun murah belum tentu efektif. Akhirnya pemilihan media berkaitan dengan alokasi dana ini bergantung pada jenis pesan dan sasaran yang akan dibidik pro­gram kampanye. Supaya lebih matang membuat pengalokasian dana, perhatikan dua pertanyaan berikut: dapatkah hal yang diinginkan tercapai dengan mengeluarkan uang yang sedikit? apa­kah dengan menambah sedikit alokasi dana dapat meningkatkar pencapaian tujuan yang jauh lebih besar?
Evaluasi Dan Tinjauan
Evaluasi dan tinjauan yang akan dilakukan terhadap program kam­panye merupakan salah satu bagian dari perencanaan kampanye yang tidak boleh terlupakan. Evaluasi berperan penting untuk mengetahui sejauh mana pencapaian yang dihasilkan kampanye. Untuk kampanye yang berkelanjutan evaluasi merupakan bagian yang terus berjalan seiring dengan kegiatan kampanye tersebut. Karena hasil evaluasi terhadap program kampanya tersebut nan­tinya akan digunakan sebagai tinjauan untuk program kampanye yang akan dilakukan selanjutnya, maka evaluasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terstruktur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar