Kamis, 17 Maret 2011

Komunikasi Sosial dan Pembangunan - Studi Lerner, McClelland,Inkeles


1. Studi Lerner
            Daniel Lerner adalah orang yang serius mempelajari aspek komunikasi dalam pembangunan. Menurut Lerner, aspek yang paling penting dalam modernisasi adalah kemauan untuk mobilitas, baik fisik maupun psikis. Aspek fisik mencakup urbanisasi, yakni adanya perpindahan dari desa ke kota. Sedang mobilitas psikis berarti bergeraknya seseorang dalam arti kejiwaan, adanya empati. Empati ini berarti kemampuan seseorang untuk membayangkan dirinya berada di posisi orang lain.
            Untuk membentuk ini, dibutuhkan peran media massa. Sehingga Lerner menganggap bahwa pengoptimalan media massa adalah hal yang sangat penting. Bagaimana orang lain mengetahui suatu informasi dari media massa, bagaimana media massa mengolah pesannya, hal-hal ini lah yang dibutuhkan untuk mobilitas yang telah disebutkan di atas.
            Garis besar teori Lerner dapat digambarkan sebagai berikut :
            1. U            L             M            P
            2. U           L             P
                                    M
                        U         = Urbanization
                        L          = Literacy
                        M         = Media Participation
                        P          = Political Participation
            Kelebihan dari teori ini adanya semangat untuk berinovasi, adanya kemauan untuk menjadi agen perubahan. Ha ini didasarkan dari syarat modernisasi yang mengharuskan untuk perpindahan atau mobilitas sehingga terjadi pergerakan pengetahuan dan keinginan.
Kekurangan dari model ini adalah salah perhitungan dari Lerner yang menyatakan bahwa arus urbanisasi bisa menghasilkan peningkatan baca tulis di kalangan anggota masyarakat. Namun, hal ini ternyata salah. Di negara berkembang, arus urbanisasi justru memicu timbulnya kawasan-kawasan baru yang kumuh yang terletak di pinggiran kota. Juga tidak dilanjutkan dengan peningkatan konsumsi media, apalagi berpartisipasi dalam politik.

2. Studi McClelland
Dalam studinya yang berjudul The Achieving Society (1961), ia berkesimpulan bahwa untuk memajukan suatu masyarakat, yang pertama dilakukan adalah merubah sikap mental para individu masyarakat (attitude). Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain adalah :
·         Kebutuhan untuk mencapai sesuatu (Need for achievement atau n/Ach)
·         Kebutuhan untuk berkuasa (Need for power atau n/Pow)
·         Kebutuhan untuk beraktfitas (Need for afliation atau n/Aff)
Menurutnya, masyarakat yang memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu, maka masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang mencapai sesuatu sehingga mereka dapat menjadi sekumpulan masyarakat yang berkembang dan maju.
Sejarah menunjukkan bahwa, ciri-ciri masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki dorongan oleh “kebutuhan untuk pencapaian sesuatu” atau need for achievement.
Pada dasarnya asumsi McClelland adalah motivasi pencapaian memang yang terpenting, namun hal itu hanyalah suatu unsur dari suatu matriks kepribadian yang berpengaruh bagi pembangunan ekonomi.
Oleh karena itu ia merekomendasikan tiga cara dalam mengembankan jalan menuju kemodernan dan mengintensifkan motif pencapaian, yaitu :
·         Pentingnya menciptakan opini publik
·         Emansipasi wanita
·         Pendidikan luar negeri


Kelebihan
Need for achievement mendorong seseorang untuk menampilkan lebih baik lagi dan mendorong seseorang untuk menata pekerjaannya sebegitu rupa sehingga menyimpulkan suatu keberhasilan (sense of accomplishment). Need for achievement juga penting untuk pemberhasilan pembangunan (unsur kewiraswastaan) sekaligus penting bagi keberhasilan kewiraswastaan.
Kekurangan
            Need of achievement dapat juga mengakibatkan persaingan yang tidak sehat antara individu dengan dalih semata-mata untuk mendapatkan penghargaan.

3. Studi Alex Inkeles
Studi Alex Inkeles berfokus pada hipotesis bahwa pada institusi pemoderenan seperti pabrik, media masa dan sekolah menciptakan manusia yang dapat mengisi peran karier di berbagai institusi modern yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi.
Asumsi :
1. Semakin besar pengenaan (exposre) seseorang kepada lembaga-lembaga pemoderenan maka bertambah maju juga dimensi psikologis moderenisasi pada  tingkat individual.
2. Lingkungan pada pola istitusiakan membentuk nilai-nilai, sikap mental dan strutur berpikir seseorang yang nantinya akan meluas.
3. Pengaruh media massa dengan data mengenai exposure surat kabar / radio. Inkeles berpendapat bahwa exposure menghasilkan efek yang sama/ lebh kuat.
 Moderenisasi menurut Alex Inkeles :
1. Manusia modern memiliki kesediaan pengalaman – pengalaman yang baru dan keterbukaan pada inovasi.
2. Manusia yang memiliki sikap modern mampu membuat opini dan mengutarakan pada orang lain.
3. Orang modern sangat mengargai waktu
4. Orang modern bekerja menurut rencana.
5. Setiap orang modern  berkeyakinan pada kemampuanya.
6. Lebih percaya pada ilmu pengetahuan.
Inkeles berasumsi bahwa dengan memberikan lingkungan yang tepat setiap orang bisa diubah menjadi manusia yang modern setelah mencapai usia dewasa
Kelebihan
Individu akan lebih berpikir secara rasional berdasarkan riset-riset ilmiah. Dan seketika itu pula pemikiran modern yang lebih berorientasi kepada efisiensi dan efektifitas kerja menjadi tren dalam budaya kerja.
Kekurangan
Dengan adanya pemikiran ynag lebih modern, maka pemikiran dan budaya tradisional mulai ditinggalkan. Padahal jika ditelaah lebih jauh, budaya tradisional tidak selalu buruk untuk diterapkan dalam zaman yang semakin maju.

Lembaga- lembaga pemmoderenan menciptakan
 
Model dari Inkeles .
Merupakan persyaratan pendukung pembangunan suatu bangsa.

 
Institusi-institusi modern
 
Manusia modern yang mampu mengisi
 



                                   







Teori yang Cocok untuk Indonesia
Studi dari Alex sebenarnya saat ini cocok untuk diterapkan di Indonesia. Mengapa? Karena pemikiran modern sangat dibutuhkan dalam budaya kerja di Indonesia. Hal itu diperlukan agar sumber daya manusia Indonesia tidak semakin terbelakang dan ditinggalkan oleh bangsa-bangsa lain yang mengedepankan pemikiran modern. Di sisi lain pemikiran irasional sebagai karakteristik bangsa ini seharusnya harus direduksi karena cenderung dampaknya lebih kepada khayalan-khayalan yang fiktif dan tidak bersifat praktis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar