Kamis, 17 Maret 2011

Analisis Perkembangan Bisnis Media Cetak tahun 2010 di Indonesia


ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS MEDIA CETAK TAHUN 2010 DI INDONESIA

A.    Selayang Pandang
            Persaingan bisnis media saat ini semakin ketat. Mereka bersaing tidak hanya sebatas sesama jenis media (intra media), tetapi juga dengan jenis media yang berbeda (inter media). Berdasarkan data IMS AC Nielsen 2010, dalam lampiran soal telah dilampirkan data media usage berbagai jenis media cetak (Surat Kabar, Tabloid, dan Majalah) untuk target audience Female, SES, BC, Usia 25-44 tahun yang nantinya akan dianalisis.
            Surat kabar adalah suatu penerbitan ringan dan dicetak dengan kertas yang berbiaya rendah serta terbit secara harian dengan memaparkan berita atau liputan yang aktual. Surat kabar dalam perkembangan bisnisnya sangat bergantung pada oplah yang diraihnya. Oplah sendiri adalah jumlah kopi surat kabar setiap sekali terbit dan digunakan untuk mengatur harga periklanan. Selain surat kabar, jenis media cetak yang akan dianalisis adalah tabloid. Tabloid sendiri sebenarnya adalah format surat kabar yang (biasanya) lebih kecil dari ukuran suatu surat kabar. Istilah tabloid biasanya dikaitkan dengan isi berita yang di luar isu politik, hukum , dan keamanan cenderung ke dunia hiburan. Meskipun saat ini sudah ada bebrapa tabloid yang isinya mengenai isu politik dan sebagainya. Dan jenis terakhir yang akan dianalisis adalah majalah. Menurut wikipedia, “Majalah adalah penerbitan berkala yang berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi. Majalah biasa diterbitkan mingguan, dwimingguan atau bulanan. Majalah biasanya memiliki artikel mengenai topik populer yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Publikasi akademis yang menulis artikel padat ilmu disebut jurnal.”



B.     SOAL
1.      Analisis kritis terhadap dinamika persaingan bisnis media cetak berdasarkan data AC Nielsen
2.      Hal-hal menarik seputar persaingan bisnis media cetak lokal dengan media cetak nasional
3.      Analisis faktor-faktor makro, messo, dan mikro yang melatar belakangi kondisi media usage sesuai dengan data yang dipaparkan dalam data AC Nielsen

C.     JAWABAN NOMOR 1

c.1.  Surat Kabar
      Dari tabel data yang ada merupakan penggunanaan media cetak khusunya surat kabar yang terdiri dari surat kabar lokal maupun surat kabar nasional. Dari jumlah pembaca surat kabar, harian Jawa Pos  menggungguli penyedia harian lokal unggulan lainnya yaitu Pos Kota . Bahkan, Jawa Pos juga sanggup mengungguli surat kabar yang sangat terkenal dan jangkauannya telah mencakup nasional, yaitu harian Kompas. Hasil tersebut berasal dari riset Nielsen mencakup sembilan kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, serta Jogjakarta. Ditambah Makassar, Denpasar, Palembang, dan Medan.
      Mengapa harian Jawa Pos bisa unggul ?
Selain Jawa Pos, lima besar yang ada pada tabel tersebut adalah Pos Kota, Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan Seputar Indonesia. Dari lima besar tersebut harian Jawa Pos dan Kedaulatan Rakyat merupakan surat kabar harian yang tidak terbit di Jakarta yang merupakan pusat bisnis Indonesia. Jawa Pos merupakan surat kabar harian yang terbit di Surabaya. Hebatnya Jawa Pos bisa mengungguli surat kabar harian dengan label nasional dan terbit di Jakarta. Hal itu bisa dimungkinkan karena distribusi harian Jawa Pos yang meluas ke berbagai wilayah yaitu Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Dengan tempat penerbitan yang relatif persaingan bisnis media cetak-nya tidak seketat Jakarta, Jawa Pos mampu menjadi top of mind dari masyarakat di Surabaya dan daerah distribusi lainnya sebagai media cetak surat kabar harian yang paling inovatif dan aktual. Jawa Pos sendiri mengklaim sebagai “Harian Nasional yang Terbit di Surabaya”.



               Keunggulan Jawa Pos  tidak mengherankan apabila melihat kebiasaan orang Surabaya yang juga merupakan target utama Jawa Pos dalam cara atau lewat media apa mereka mendapatkan informasi. Dari data diatas yang dikeluarkan oleh E. Bussines Consult-Media Habits 2009 menunjukkan bahwa tingkat penggunaan media cetak khusunya  surat kabar sangat besar bahkan hampir setara dengan penggunaan televisi. Hal itu tidak serupa dengan di Jakarta. Gaya hidup yang mementingkan kecepatan, kemudahan, dan kepraktisan dalam mendapatkan informasi membuat tingkat membaca surat kabar tidak sebesar di Surabaya misalnya. Hal itulah mengapa harian Jawa Pos bisa unggul dalam hal oplah daripada surat kabar harian lainnya. Baik dilihat secara keseluruhan ataupun hanya dari target audience female, SES BC, dan usia 25-44 tahun.

C.2. Tabloid
               Dari data tabel Nielsen yang dipaparkan tabloid Pulsa menempati urutan teratas dalam penjualan tabloid di seluruh Indonesia untuk target audience female, SES BC, dan usia 25-44 tahun. Hasil ini sangat menarik mengingat tabloid Pulsa sanggup mengalahkan tabloid yang lebih lama telah hadir, bahkan juga sanggup mengalahkan tabloid seputar dunia hiburan dan gosip artis, salah satunya tabloid Cek & Ricek. Padahal kategori target audience data ini adalah female yang identik dengan informasi seputar dunia hiburan.
Mengapa Tabloid Pulsa Bisa Unggul?
               Sebenarya tabloid Pulsa diuntungkan dalam hal peta persaingan tabloid di Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri untuk target audience female apalagi untuk usia 25-44 tahun hal yang identik adalah tabloid hiburan dan berbicara tentang gaya hidup wanita dewasa. Namun, banyaknya tabloid yang bertemakan hiburan dan gaya hidup wanita dewasa membuat tabloid-tabloid tersebut terlebih dahulu bersaing bagaimana untuk unggul dan menjadi top of mind dari pembacanya yang sama-sama membutuhkan informasi tentang hiburan dan gaya hidup daripada memperhatikan persaingan secara lebih luas di ranah produk tabloid secara umum.
               Dari tabel Nielsen yang dipaparkan terdapat 11 tabloid dan 6 diantaranya adalah tabloid yang mengusung tema seputar dunia hiburan dan gaya hidup wanita dewasa. Hal ini jelas menguntungkan bagi tabloid yang memiliki tema berbeda. Tak terkecuali bagi tabloid Pulsa. Tidak hanya alasan itu yang mengakibatkan tabloid Pulsa nangkring di posisi top of chart, tetapi juga perkembangan teknologi itu sendiri dan daya konsumtif dari masyarakat Indonesia khusunya wanita yang berdomisili di kota-kota besar yang kemudian berdampak pada pembelian tabloid yang menyediakan informasi tersebut. Hal tersebut ada pada tabloid Pulsa.                                                                                                                                                        Isi dari tabloid Pulsa berbicara tentang handphone (pada awalnya) dan kemudian berkembang menjadi soal gadget yang sedang tren. Karena yang diriset adalah wanita di kota-kota besar sudah tentu kalau gaya hidupnya membutuhkan perangkat teknologi yang paling in dan juga mendukung gaya hidupnya itu sendiri yang membutuhan mobilitas dan kepraktisan. Apalagi dalam 10 tahun terakhir perkembangan gaya hidup modern sudah beralih dari konvensional ke era digitalisasi. Hal itu ditambah dengan  catatan Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), saat ini, sekitar 180 juta penduduk Indonesia sudah menjadi pelanggan layanan seluler. Itu berarti, sudah sekitar 60 persen populasi di tanah air sudah memiliki perangkat telekomunikasi. Sungguh pasar yang sangat potensial. Pemrakarsa tabloid Pulsa pintar menangkap fenomena ini. Akhirnya bisa ditebak tabloid Pulsa menjadi laris manis di pasaran karena lewat tabloid itulah pasar dapat mengetahui teknologi apa yang sedang tren guna menunjang gaya hidup mereka.

c.3. Majalah

               Dari tabel data Nielsen yang dipaparkan mengenai media usage seputar majalah terlihat hal yang menarik. Majalah religi berhasil mengisi top of chart dalam penggunaan pembaca majalah untuk target sasaran wanita, ses BC, dan usia 22-44 tahun. Dalam tabel persaingan majalah ini memang lebih beragam dari data tabloid dilihat dari keberagaman tema majalah yang hadir di 13 besar. Beragam tema seperti berita (Tempo), wanita (Kartini & Femina), dan lain-lain hadir dalam urutan. Namun yang menjadi paling unggul adalah majalah Hidayah dengan liputan seputar dunia agama islam.
Mengapa Majalah Hidayah Bisa Unggul ?

               Diperkirakan pasar utama majalah Hidayah adalah wanita dewasa yang sudah berkeluarga. Sama halnya dengan tabloid Pulsa, majalah Hidayah mampu menembus pasar karena keberaniannya untuk beda dengan majalah-majalah yang sejak puluhan tahun lalu telah hadir di Indonesia. Di tengah banyak majalah seputar wanita, penerbit majalah Hidayah mengambil risiko dengan menghadirkan konten-konten islami dan itu terbukti sukses.
               Isi dari majalah Hidayah yang terkesan membeikan pesan dengan cara penyampaian yang ‘menakut-nakuti’ dan berbau gaib ternyata memag cocok untuk  karakteristik konsumen bangsa ini. Memang tidak dapat dipungkiri masyarkat disini sangat menyukai hal-hal yang unik dan janggal. Jika terjadi sesuatu atau kabar akan sesuatu yang tidak biasa dan cenderung aneh maka kabar tersebut bakar kemungkinan akan langsung menarik perhatian. Itulah yang disediakan oleh redaksi majalah Hidayah. Headline di setiap edisinya yang heboh seperti “Penjudi Mati Dengan Lidah Menjulur Keluar” sangat menarik calon pembaca untuk ingin membaca secara lengkap kronologis mengapa hal tersebut bisa terjadi. Inilah mengapa majalah Hidayah laku dipasaran terutama untuk target sasaran wanita, SES BC, dan usia 25-44 tahun.
               Di lain hal, ada juga beberapa yang cukup menarik dalam persaingan majalah berdasarkan data Nielsen tersebut. Majalah dengan tema-tema pemberitaan yang berat seperti majalah Tempo sudah masuk ke dalam jajaran top majalah yang dibaca oleh wanita dewasa. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa wanita masih jarang untuk berminat membaca majalah-majalah berita apalagi yang diterbitkan oleh tempo dengan gaya bahasa yang berat. Mungkin data tersebut bisa berubah apabila yang dihitung adalah SES A. Diperkirakan wanita dewasa dengan SES A lebih menyukai dan memperhatikan perkembangan berita dan isu di tanah air daripada wanita dengan SES BC.


              



D.    JAWABAN NOMOR 2
Untuk mennganalisis persaingan bisnis yang terjadi antara media cetak lokal dengan media cetak nasional sangatlah luas. Secara umum hal yang paling dasar dalam membedakan persaingan media cetak lokal dengan media cetak nasional adalah cakupan distribusinya. Tentunya media cetak nasional mempunyai jaringan-jaringan distribusi yang lebih luas daripada media cetak lokal. Untuk mempermudah analisis yang akan menjadi model adalah surat kabar. Mengingat dari media cetak, surat kabar adalah jenis yang jumlahnya sangat banyak baik itu dari surat kabar lokal maupun surat kabar nasional.
Untuk memperkecil lagi ruang analisis, maka Jawa Pos dianggap mewakili surat kabar terbitan lokal dan Kompas dianggap mewakili surat kabar skala nasional. Mengapa Jawa Pos dan Kompas ? Hal tersebut dikarenakan dari kategori surat kabar lokal dan surat kabar nasional mereka lah yang mempunyai oplah terbesar dan juga jangkauan terluas.
 Jawa Pos adalah surat kabar harian yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Jawa Pos merupakan harian terbesar di Jawa Timur, dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Indonesia. Sirkulasi Jawa Pos menyebar di seluruh Jawa Timur, Bali, dan sebagian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
 Sementara Harian Kompas adalah nama surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kompas adalah bagian dari Kelompok Kompas Gramedia. Kompas mulai terbit pada tanggal 28 Juni 1965 berkantor di Jakarta Pusat dengan tiras 4.800 eksemplar. Sejak tahun 1969, Kompas merajai penjualan surat kabar secara nasional. Kompas memiliki kelebihan dari surat kabar lainnya di Indonesia . Kompas merupakan satu-satunya surat kabar di Indonesia yang diaudit oleh Audit Bureau of Circulations (ABC).
Sebagai orang yang mengamati perkembangan media, khusunya media cetak sepertinya pasti akan menyadari bahwa ada persaingan bisnis yang ketat dari surat kabar harian Jawa Pos dan Kompas. Banyak kalangan  yang menganggap bahkan manajemen-nya sendiri menganggap bahwa harian Kompas adalah surat kabar terbesar di Indonesia. Dengan oplah yang selalu menembus angka ratusan ribu ditambah dengan jumlah dan kualitas iklan dalam harian Kompas banyak yang menganggap bahwa harian Kompas adalah cerminan pemberitaan dan informasi nasional. Kompas dianggap merepresentativkan hal-hal yang happening yang terjadi di Indonesia. Distribusi dari harian Kompas pun telah menyebar ke berbagai daerah di tanah air.
Hal berbeda dilakukan oleh Jawa Pos. Pada awalnya memang Jawa Pos hanya berorientasi pasar di Jawa Timur khusunya Surabaya. Namun, semenjak kepemimpinan Dahlan Iskan pada tahun 2000 Jawa Pos mulai berkembang. Dengan tetap konsisten menyediakan konten lokal, Dahlan membuat surat kabar-surat kabar lainnya yang bermaterikan konten lokal sebagai bentuk ekstensivikasi bisnis Jawa Pos yang kemudian tergabung dalam Jawa Pos Group. Jawa Pos yang sudah memegang kendali di daerah Jawa Timur   mencoba peruntungan dengan menyediakan harian-harian lokal lainnya. Dengan nama surat kabar dengan nama depan ‘ Radar’, akhirnya Dahlan berhasil menguasai pasar surat kabar lokal di banyak daerah tanah air.
Di Jawa Timur sendiri, kesuksesan Jawa Pos juga didukung oleh budaya penggunaan media cetak jenis surat kabar yang sangat besar. Masyarakat disana masih menjadikan surat kabar sebagai salah sumber informasi. Berbeda halnya dengan kota-kota besar lain di Indonesia yang semakin meninggalkan surat kabar dan beralih ke televisi, internet dan e-papper. Manajemen bisnis yang cerdas dan penuh dedikasi yang dilakukan oleh Dahlan Iskan memberi pengaruh pada pegembangan bisnis Jawa Pos. Contohnya, sebelum ditangani oleh Dahlan Jawa Pos hanya sanggup mencapai sekitar 6000 eksemplar semenjak Dahlan yang memimpin angka-nya melonjak tajam sekitar 300 ribu sampai dengan 500 ribu eksemplar.
Hal lain yang cenderung membuat surat kabar harian lokal mampu bersaing dengan surat kabar nasional adalah tipe pasar atau konsumen terhadap keinginan akan pemberitaan isu daerah. Masyarakat sebagian besar menilai bahwa untuk mengetahui isu dan informasi tentang berita nasional cukup lewat televisi. Namun, apabila mereka ingin mengetahui tentang perkembangan seputar berita daerah yang lebih lengkap dan mendalam maka mereka akan memilih membaca harian lokal. Jawa Pos dan surat kabar lokal pasti menyadari akan peluang itu. Apalagi untuk SES BC tingkat pembaca surat kabar lokal cenderung besar.
Ternyata langkah yang ditempuh Dahlan Iskan dengan Jawa Pos-nya juga dibuntuti oleh harian Kompas. Saat ini apabila kita melihat surat kabar harian lokal yang memiliki nama depan ‘Tribun’ misalnya harian Tribun Timur yang sangat terkenal di Makassar sebenarnya adalah ‘anak’ dari harian nasional Kompas dengan induk yang bernama Kompas Gramedia Group. Memang kegiatan ekspansi yang dilakukan oleh Kompas juga untuk memberikan alternatif atau juga tekanan pada Jawa Pos agar Dahlan tidak menguasai mutlak surat kabar-surat kabar lokal.
Dalam kasus ini memang Kompas yang dalam kondisi terdesak. Apabila melihat kenyataan yang terjadi, pembaca harian Kompas yang lebih banyak memiliki SES A sulit menyaingi harian Jawa Pos untuk SES BC. Bahkan di SES A sendiri harian Kompas versi cetak terdesak dari gaya hidup yang berubah di masyarakat. Banyak dari konsumen saat ini lebih memilih internet untuk mencari informasi dari pada surat kabar konvensional.
Kembali ke masalah surat kabar lokal. Geliat bisnis surat kabar lokal saat ini memang terasa lebih menjanjikan. Pasar lokal perkembangannya semakin meningkat dan menjanjikan. Hal sebaliknya terjadi di surat kabar nasional yang hanya merangkak perkembangan potensi bisnisnya. Walaupun memang masih ada investor dan pengiklan yang membiayai produksi surat kabar nasional. Tetapi, tetap saja dengan distribusi yang tidak terlalu mahal surat kabar lokal juga didukung dengan pengiklan dan investor yang semakin meningkat. Hal itulah mengapa Kompas melakukan ekspansi besar-besaran dengan menerbitkan surat kabar lokal. Bahkan Kompas dengan harian ‘edisi Tribun-nya’ berani menjual murah harga per eksemplarnya guna mengalahkan pasar dari Jawa Pos Group.
Berdasarkan analisis diatas memang surat kabar nasional keberadaannya mulai terdesak oleh peningkatan bisnis dari surat kabar lokal. Apa yang disajikan dari surat kabar lokal mampu memenuhi kebutuhan informasi dari konsumen di daerah daerah, apalagi gaya penulisan dan sudut pandang penulis bisa disesuaikan dengan daerah dimana surat kabar lokal itu terbit. Kejadian yang tidak serupa terjadi pada media cetak jenis tabloid dan majalah. Apabila dilihat dari data yang diperoleh Nielsen ini tidak ada satupun tabloid lokal maupun majalah lokal yang mampu bersaing dalam pasar bisnis media cetak. Tabloid nasional dan majalah nasional masih menjadi primadona dalam bisnis tersebut.




E.     JAWABAN NO 3

E.1. Makro
            Dilihat dari sisi makro-regulasi perkembangan bisnis media cetak di Indonesia yang tergambar dari data Nielsen yang dipaparkan telah terjadi pengaruh yang cukup besar terhadap kebebasan pers yang mulai berlaku sejak tahun 1998 atau lebih tepatnya saat rezim orde baru runtuh. Peristiwa itu membawa perubahan yang sangat penting dalam hal demokratisasi. Izin penerbitan pers yang mudah membuat beragam jenis media massa cetak seperti surat kabar baik lokal maupun nasional, tabloid, dan majalah bermunculan dengan berbagai macam tema. Terlihat dari tabel 1, beberapa surat kabar yang masuk dalam urutan teratas adalah surat kabar yang baru menggeliat atau bahkan baru terbit setelah era kebebasan pers tersebut. Contohnya harian Seputar Indonesia yang berhasil menyodok ke posisi 5. Pun apa yang terjadi dengan tabloid Pulsa yang memang masih baru tetapi sudah menjadi top of chart, tidak ketinggalan dari jenis majalah yang menempatkan majalah religi Hidayah sebagai pemimpinnya.
            Regulasi tentang kebebasan pers juga memberi dampak pada liberalisme media dalam ekonomi industri media massa. Hal tersebut diperjelas dengan kebebasan pers konstitusi dan Undang-Undang Pers. Liberalisme media akhirnya berujung pada konglomerasi. Contohnya Jawa Pos yang pada awal hanyalah sebuah surat kabar harian yang berkonsentrasi di Surabaya, saat ini telah tergabung dalam Jawa Pos Grup dan memiliki banyak ‘merk’ surat kabar lokal harian di berbagai daerah. Kebebasan pers tentang peliputan juga telah memberi dampak pada perkembangan bisnis majalah misalnya, konten informasi dari majalah Hidayah yang memiliki kulit religi namun isinya berbau hal-hal gaib melenggang mulus. Fungsi kontrol dan pengawasan pemerintah sudah semakin menurun tetapi belakangan ada lembaga-lembaga masyarakat yang menjadi watch dog dan itu dalam beberapa kasus terbukti cukup ampuh untuk menahan kebebasan pers yang kebablasan.
            Dari kondisi politik-ekonomi-sosial-budaya di Indonesia juga sangat mempengaruhi perkembangan bisnis media cetak di negeri ini. Kondisi politik Indonesia yang saat ini mengusung demokrasi memberi dampak yang positif terhadap perkembangan bisnis media cetak namun emmang terkadang ada sisi negatif-nya. Setidaknya kondisi politik yang demikian membebaskan pelaku bisnis media cetak dari teori-teori pers yang baku, seperti teori pers otoriter, teori komunis, teori liberal, maupun teori tanggung jawab sosial. Intinya tidak ada patokan khusus bahwa Indonesia menggunakan teori apa dari ke-empat teori yang sudah lazim tersebut.
            Sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu perkembangan media cetak di Indonesia dipengaruhi oleh sistem politik yang otoriter, sangat sulit menemukan pemberitaan yang mengorek keburukan atau kegagalan pemerintah kala itu. Berbeda dengan saat ini media cetak sudah bebas menulis apa saja yang mereka mau selama tidak mengandung isu SARA. Kondisi atau kestabilan politik  juga berdampak pada geliat bisnis media cetak. Geliat bisnis terjadi apabila tidak ada kisruh politik yang parah akan mengakibatkan restrukturisasi dari industri media cetak. Itu pernah terjadi saat massa pergolakan reformasi pada tahun 1998. Banyak media cetak tutup, namun juga setelah itu banyak media cetak bermunculan.
            Dari sisi ekonomi tentunya hampir sama dengan pengaruh politik. Ekonomi yang stabil mengakibatkan siklus jual-beli yang mulus. Industri media cetak adalah sebuah bisnis yang membutuhkan dana yang sangat besar. Apabila terjadi inflasi ekonomi maka otomatis akan turut berdampak pada keberlangsungan industri tersebut. Kondisi ekonomi yang masih dianggap wajar ini mengakibatkan para pelaku bisnis melakukan apa yang disebut konglomerasi media. Hal itu dilakukan untuk menguasai pasar, seperti apa yang dilakukan oleh Jawa Pos Grup. Memang positif bagi Jawa Pos Grup, namun hal itu akan mematikan surat kabar harian lokal yang berdiri tunggal dan independen. Selain hal-hal tersebut perlu diketahui bahwa semakin tinggi kebutuhan suatu masyarakat akan akses informasi dan berita maka akan sejalan dengan semakin tingginya tingkat ekonomi masyarakat tersebut.
            Suatu perkembangan bisnis yang melibatkan khalayak banyak tidak akan terlepas dari sosial dan budaya dari khalayak tersebut. Sosial-budaya di Indonesia sangat kental dengan budaya ketimuran yang mengenal sopan santun serta juga kental dengan anggapan bahwa isu atau berita yang tidak biasa dan aneh di negeri ini akan membuat perhatian yang sangat besar. Budaya sopan santun juga selama ini tidak terlepas dari penulisan di media cetak. Penulis kebanyakan tidak langsung to the point dalam mengatakan si A salah dengan begitu terbuka. Atau si penulis contohnya hanya menyampaikan secara eksplisit bahwa si A salah dalam kasus ini dan si A harus dihukum. Apalagi jika si A adalah tokoh masyarakat yang cukup dipandang. Majalah Tempo pernah mengalamai masalah dengan hal tersebut.
Untuk unsur yang kedua, masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya ‘heboh’. Pemeberitaan yang heboh dan janggal sangat disukai oleh tipikal masyarakat Indonesia. Mislanya majalah Hidayah yang isinya seputar pemberitaan hal-hal yang apabila ditelaah secara nalar mungkin tdak masuk akal. Tipe pemberitaan itulah yang sangat disukai tipikal masyarakat Indonesia. Bahkan budaya klenik juga masih kental di negeri yang dikatakan negara berkembang ini, contonya majalah Misteri yang khusus memberitakan isu-isu gaib dan klenik masuk ke dalam empat besar majalah yang dipaparkan Nielsen untuk target audience Femal, SES BC, umur 25-45 tahun.
Media massa cetak juga tidak berlebihan apabila dikatakan sebagai cerminan budaya bangsa dan sebagai agen perubahan. Surat Kabar, tabloid, dan majalah yang terbit dengan tema-tema tertentu bisa dianggap mewakili kondisi sossial-budaya dari suatu bangsa. Terlebih lagi dengan pemeberitaan yang disajikan. Fungsi sebagai agen perubahan juga bisa dilakukan oleh media cetak, seperti halnya beberapa surat kabar dan majalah yang isinya bisa menjadi referensi dalam cara pandang memahami kondisi bangsa. Dan untuk tabloid dan majalah juga bisa juga mencerminkan gaya hidup suatu bangsa tersebut karena mayoritas tabloid dan majalah di Indonesia berbicara tentang gaya hidup terutama untuk yang mempunyai sasaran utama wanita.                                                              Dalam struktur pasar media di Indonesia maka peta persaingannya bisa dalam bentuk pasar persaingan oligopoli, namun belakangan juga merujuk pada pasar persaingan monopolistik. Pasar persaingan oligopoli adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Kasus tersebut tercermin dalam persaingan antara Kompas dan Jawa Pos. Untuk menekan dan mengambil alih pembaca Jawa Pos,  Kompas melakukan promosi dan strategi perubahan harga. Harga per eksemplar Kompas dan anak perusahaannya diturunkan untuk menjangkau pasar dari Jawa Pos yang memiliki SES BC. Begitu pula dengan pengenalan produk baru yang dilakukan oleh Kompas dengan terbitnya harian Kompas edisi sore.
Satu lagi adalah pasar persaingan monopolistik. Pasar persaingan monopolistik adalah salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas, namun setiap produk yang dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk lainnya. Pada pasar monopolistik, produsen memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga walaupun pengaruhnya tidak sebesar produsen dari pasar monopoli atau oligopoli. Kemampuan ini berasal dari sifat barang yang dihasilkan. Karena perbedaan dan ciri khas dari suatu barang, konsumen tidak akan mudah berpindah ke merek lain, dan tetap memilih merek tersebut walau produsen menaikkan harga. Contohnya dalam kasus ini adalah keberagaman merk tabloid dan majalah. Pada tabloid misalnya terdapat tema besar yang sebenarnya sejenis, misalnya dunia hiburan. Tetapi masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang membuat meeka mempunyai pasar masing-masing.
E.2. Messo
Karakteristik

            Dari tabel data Nielsen yang dipaparkan akan dianalisis mengenai karakteristik jenis media, kebijakan dan manajemen bisnis media  serta professional media. Dari karakteristik media cetak mempunyai ciri yang unik dan berbeda dengan media massa lainya. Berdasarkan data yang dipaparkan Nielsen apabila dianalisis dapat dikatakan bahwa media cetak baik surat kabar, tabloid, maupun majalah memiliki konsumennya masing-masing sesuai karakteristik media cetak. Dari setiap media cetak yang dipilih dapat tereka kira-kira siapa konsumennya. Hal itu sulit untuk dilakukan oleh media massa lainnya. Serta dalam media massa cetak juga dapat mewakili suara atau opini kelompok tertentu di daerah tertentu.
            Karakteristik media cetak lain yang mendukung pentafsiran data Nielsen yang dipaparkan adalah ruang-ruang kritik sosial yang sangat luas terbuka di media cetak. Misalnya leawat majalah penulis bisa menyampaikan analisisnya tentang sesuatu hal dengan mendalam dan menyeluruh. Dan masyarakat pun banyak yang masih memilih untuk membaca tulisan investigasi di majalah tentang kasus tertentu daripada menonton editorial yang disajikan lewat televisi.
            Serta karakteristik yang lain adalah kekhususan tema yang sangat memungkinkan dilakukan lewat media cetak dan itu merupakan hal yang cukup menjanjikan. Untuk dunia televisi dan lainnya sangat sulit untuk mengkotak-kotakan hasil produksi media-nya. Hal tersebut dibuktikan dengan masih jarangnya televisi yang bergenre khusus. Tetapi, keadaan demikian tidak terjadi di media cetak. Buktinya tabloid Pulsa yang mempunyai pemberitaan khusus tentang perkembangan gadget dan teknologi berhasil menempati posisi teratas dalam data Nielsen yang dipaparkan.
            Dan yang terakhir adalah karakteristik iklan pada media cetak. Media cetak menjadi tempat yang termasuk representatif untuk mempromosikan suatu produk. Apalagi jika beriklan di media cetak nasional yang memiliki oplah besar maka keuntungannya akan signifikan bahkan mungkin bisa mengalahkan keuntungan dalam beriklan di media massa elektronik.


Kebijakan dan Manajemen Bisnis Media

Setiap media massa, baik itu media cetak ataupun media elektronik tentunya memiliki cara sendiri untuk menerapkan kebijakan dan manajemen bisnis media perusahaan mereka masing masing. Termasuk tabel media usage yang dipaparkan oleh Nielsen. Hampir semua manajemen binis suatu media cetak menerapkan konsep MCM. Konse MCM adalah Money-Commodity-More Money. Secara garis besar inti dari konsep ini adalah suatu perusahaan media cetak memiliki uang dalam bentuk modal usaha unuk membuat ‘barangg dagangan’ yang nantinya akan laku di pasaran dan membuat lebih banyak uang atau keuntunan yang dihasilkan.
Kembali jika merujuk ke Jawa Pos. Semenjak ditukangi oleh Dahlan Iskan pada tahun 2000 Jawa Pos dapat menghasilkan jumlah oplah yang besar dan berhasil membuat Jawa Pos News Network yang kemudian berkembang menjadi Jawa Pos Group dan menguasai sirkulasi surat kabar harian lokal di berbagai daerah. Prestasi atau pencapaian tersebebut tidak lepas dari kebijkan dan manajemen bisnis  yang dilakukan oleh Jawa Pos.
Dengan modal yang memang sudah diperoleh dari pemimpin sebelumnya Dahlan Iskan mencoba membuat komoditas yang bisa dibuat oleh Jawa Pos yang nantinya akan menghasilkan keuntungan yang besar. Dimulai dari konsep harian Jawa Pos sendiri, dengan tagline ‘selalu ada yang baru’ Jawa Pos selalu menghadirkan konten-konten yang baru dan inovatif dalam penerbitan harian cetaknya. Dan per segmen konsepnya dibuat berbeda dengan harian kebanyakan. Contohnya dalam harian Jawa Pos terdapat rubrik denan full satu halaman tentang wanita yang diberi judul ‘HER’. Dengan begitu dalam satu eksemplar harian Jawa Pos dapat menampung dan menarik pembaca dari berbagai macam target audience. Selain itu, kebijakan untuk melakukan ekspansi penerbitan dengan adanya Jawa Pos ‘edisi Radar’ yang tersebar di berbagai daerah membuat Jawa Pos menjadi semakin besar dari segi bisnis.

Professional Media
           
               Dari tabel data yang dikeluarkan oleh Nielsen. Dari sedemikian banyak media cetak baik surat kabar, tabloid, dan majalah yang terdaftar dalam tabel tersebut, merupakan  media cetak yang professional. Karena tidak mungkin apabila media tersebut mampu memperoleh readers sedemikian banyak tanpa adanya sikap profesional dari media cetak . Berikut adalah faktor-faktor yang membuat media cetak tersebut professional
1.      Modal
Tidak adapat dipungkiri ketersediaan modal adalah langkah awal profesionalitas untuk mencapai sebuah kesuksesan yang berorientasi kepada keuntungan dan bisnis.
2.      Sumber daya manusia
Ini adalah bagaian yang sangat penting dalam profesionalitas sebuah media cetak. Profesional media dibentuk dari manajemen yang profesional.
3.      Visi dan Misi
4.      Pemilihan segmen yang jelas
5.      Kreatif
6.      Inovatif
7.      The Power Of Youth

Poin yang terakhir menjadi hal yang paling menarik. The Power of Youth diyakini dapat membuat suatu lembaga lebih dinamis, mobile, dan profesional. Dengan usia yang muda misal dibawah 40 tahun untuk di bidang kreatif dan editor saja dimungkinkan membentuk suatu media cetak yang profesional dan memiliki prospek yang cerah. Ide-ide segar dan mengikuti tren bahkan menciptakan tren dapat menepis anggapan bahwa media cetak hanya dibaca oleh golongan tertentu dan dewas saja. Kaum muda bisa mengubah segalanya termasuk membuat sebuah media cetak menjadi profesional.
                       

  1. Mikro
Dari segi mikro yang mencakup kondisi dan format isi media kita bisa melihatnya sebagai suatu keberagaman. Pastinya setiap media cetak baik surat kabar, tabloid, dan majalah
Mempunyai kondisi dan format isi media. Dari segi karakteristik jenisnya juga sudah berbeda antara surat kabar, tabloid, dan majalah. Pada surat kabar juga kembali terbagi dengan surat kabar lokal dan surat kabar nasional yang masing-masing mempunyai kondisi dan format yang berbeda. Demikian halnya dengan tabloid yang mempunyai segmentasi jelas sehingga mempermudah isi informasi dan distribusi-nya. Pun dengan majalah yang juga bisa dibedakan menjadi majalah mingguan, dwi- mingguan, dan bulanan. Dari waktu cetak yang berbeda-beda juga sudah tentu berpengaruh pada kondisi dan format isi media.
Format isi media saat ini mencerminkan pergerakan suatu era, media yang bersifat dinamis berimbas pada formatnya yang selalu ada perubahan. Lagi-lagi kita melihat Jawa Pos yang menjadi role model. Berikut akan ditampilkan slide company profile dari Jawa Pos mengenai format isi media surat kabar harian-nya.














            Itulah keungulan yang ditawarkan oleh Jawa Pos. Mereka akan selalu embeikan inovasi-inovasi baru agar format informasinya tidak monoton dan menarik bagi calon pembacanya. Juga dari setiap inovasi yang ilakukan oleh Jawa Pos pasti memiliki tujuan untuk mengambil khalayak dengan segmentasi tertentu. Jadi adanya inovasi tidak akan mengubah secara keseluruhan format normal yang telah ada. Berikut adalah rubrik yang merupakan inovasi dari harian Jawa Pos.












            Pada rubrik ini Jawa Pos berusaha menggaet pasar keluarga muda yang dinamis. Hal ini sangat cerdik karena biasaya informasi ini justru ada di dalam tabloid bahkan majalah. Inovasi ini berhasil dilakukan oleh Jawa Pos terbukti dengan oplah yang terus meningkat dan target sasaran wanita dewasa yang baru saja menikah juga dianggap berhasil. Terbukti seperti data yang dipaparkan Nielsen Jawa Pos berada di posisi teratas media usage surat kabar dengan SES BC untuk usia 25-44 tahu. Rubrik semakin menarik ditambah dengan tampilan dan desain yang unik dan eye catching. Berikut adalah contoh tampilannya.












            Ciri surat kabar yaitu memberitakan kabar aktual juga menjadi acuan Jawa Pos untuk membuat format isi medianya mampu mengikuti perkembangan zaman. Jawa Pos mengikuti setiap kegiatan yang terjadi, melibatkan orang banyak, dan tentunya bisa dijual.Tidak hanya itu, Jawa Pos juga sudah mulai meliput seputar komunitas-komunitas yang bebrapa tahun belakangan marak dibentuk. Juga berbagai macam gerakan sosial yang menggeliat akhir-akhir ini. Itu merupakan suatu format inovasi dari Jawa Pos yang dinamakan rubrik ‘ Part of the Show’



























            Format Media yang unik dan dinamis tidak hanya ditampilkan oleh surat kabar, tetapi juga oleh tabloid dan majalah. Tabloid Pulsa misalnya mengembangkan liputannya yang pada awalnya hanya berkonsentrasi pada hanphone saat ini sudah berkembang sudah seputar gadget secara umum. Isi informasi juga dilengkapi tips&trik dan harga gadget terkini.








            Di majalah pun serupa. Biasanya format majalah tidak hanya fokus pada tema yang diambil dari majalah yang bersangkutan, tetapi juga pada hal-hal di luar itu. Misal majalah Anneka Yess ! yang terkadang juga membuat halaman tentang olahraga. Format lain yang menjadi ciri khusus dari majalah adalah masalah iklan. Di majalah sering kita temui satu halaman bahkan lebih yang hanya memuat tentang prodk tertentu. Dan dalam majalah pun jumlah gambar baik itu foto maupun ilustrasi sangat banyak. Serta gaya penulisan yang mendalam dan menyeluruh. Hal ini menjadikan format isi majalah menjadi semakin menarik dan aktualitasnya lebih lama.















                                                                                      



Rujukan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar